Angkie Yudistia, Keterbatasan Bukan Penghalang Menggapai Puncak Kesuksesan

Notification

×

Iklan

Iklan

Angkie Yudistia, Keterbatasan Bukan Penghalang Menggapai Puncak Kesuksesan

25 Desember 2022 | 18:14 WIB Last Updated 2022-12-26T00:09:27Z

WELASASIHMEDIA.ID - Angkie Yudistia, terlahir sebagai bayi normal. Namun, di usia 10 tahun ia pendengarannya terganggu akibat efek samping obat antibiotik. 

Dokter pun memvonisnya sebagai seorang tuna rungu. Kadung saja, peristiwa pahit itu memukul mentalnya, tetapi ia tidak menyerah pada keadaan.

Dengan kekuatan diri, ia mampu menyelesaikan pendidikan dari SD hingga SMA. Di lingkungan sekolah, keterbatasan Angkie sering menimbulkan banyak masalah selama belajar. 

Ia seringkali menerima diskriminasi sosial. Iya mengaku, awalnya merasa malu sehingga menutupi keterbatasan sebagai penyandang tuna rungu. 

Ia selalu mengatakan baik-baik saja jika ditanya dan berusaha menyembunyikan alat bantu dengar ditelinganya. 

Namun, teman dan gurunya menyimpan kecurigaan, karena setiap kali ia dipanggil tidak menoleh. Karena ketahuan, Angkie pun sempat mengalami depresi. 

Ia menjadi pribadi yang tidak percaya diri. Namun berkat dukungan keluarga, rasa percaya dirinya pun bangkit.

Selepas SMA ia dilarang dokternya untuk melanjutkan sekolah mengingat keadaannya sebagai tuna rungu. Namun tekadnya bulat, ia harus maju dan melanjutkan sekolah meskipun memiliki keterbatasan fisik. 

Angkie, kemudian meneruskan studi sarjana di jurusan Periklanan di London School of Puclic Relations (LSPR), Jakarta. Ia lulus dengan IPK 3,5. Setelah itu ia meneruskan studi master di bidang Komunikasi Pemasaran lewat program akselerasi.

Semasa kuliah Angkie terbilang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Di luar itu, tahun 2008, ia mengikuti pemilihan Abang None, mewakili wilayah Jakarta Barat. 

Angkie berhasil terplih menjadi The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, dan Miss Congeniality dari Natur-e.

Selepas menyelesaikan studi, ia berkarir di bidang Humas sebuah perusahaan. Semangat hidup Angkie, akhirnya membuat ia tergerak hati memotivasi penyandang difabel lainnya agar menjalani kehidupan secara optimis. 

Di usia 25 tahun, Angkie menjadi founder dan CEO Thisable Enterprise; sebuah perusahaan yang didirikan bersama rekannya dan bergerak di bidang sosial, khusus membantu para penyandang keterbatasan fisik (Different Ability People).

Ungkapan Angkie begitu menakjubkan, “Dibalik keterbatasan pasti ada kelebihan. Walaupun aku terbatas mendengar, bukan berarti harus terbatas melakukan apapun. Aku ingin menunjukkan semua batas harus ditembus, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.”

Dengan menempatkan hidup sebagai anugrah ilahi, setiap orang dapat menerima dan menggali potensi diri yang terpendam. Kekurangan diri – apalagi kesulitan yang menimpa – tidak lantas mengakibatkan kita sulit menanamkan kepercayaan diri. 

Jadi, bersyukurlah dengan hati yang tulus atas anugrah hidup yang diberikan Allah. Dengan begitu, kita akan mampu bersabar ketika kemenderitaan hidup mendera, dan bersyukur ketika kesenangan tiba dalam hidup ini.

Sikap hidup yang dijalani Angkie memberikan pelajaran penting bahwa hidup yang berkualitas adalah hidup yang bisa tampil secara mandiri tidak menggantungkan belas kasihan orang lain. 

Apalagi hidup menjadi beban dengan cara mengemis. Berusaha dan bekerja secara mandiri dengan mengandalkan kekuatan dan menggali potensi diri sendiri itulah wujud syukur kita atas anugrah hidup yang diberikan Allah.

Daripada hidup kita terus-menerus menderita dan kelelahan, karena selalu tidak menerima kekurangan diri, alangkah baiknya jika kita bersyukur atas apa yang sudah ditetapkan-Nya. 

Lebih baik, kita menjalani apa yang sudah menjadi kehendak Allah dengan tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik demi masa depan.

Pola pikir kita harus segera diubah ketika hari-hari ini tenggelam dalam kesedihan akibat tidak mampu menempatkan hidup sebagai anugrah ilahi. 

Hidup yang dipenuhi ketidakbersyukuran akan menyedot energi semangat kita sehingga cepat merasa lelah, gairah berkurang, dan selalu putus asa. 

Kita akan kehilangan pijakan dalam hidup ini. Kita juga akan selalu merasa minder dengan kekurangan yang dimiliki ketika Tuhan tidak diberi tempat dalam hati.

Ketika menyaksikan kesuksesan orang lain, kita selalu membanding-bandingkan dan merasa iri, kemudian dibiarkan menjadi dengki. Ketika hidup ini diisi dengan pikiran-pikiran tersebut – iri dan dengki – akan membuat kita semakin lelah dan menderita. 

Padahal ketika menyaksikan kesuksesan orang lain, baginda Muhammad Saw., selalu berpesan, “lihatlah orang yang berada di bawahmu. Jangan pernah melihat orang yang ada di atasmu”.