Prof Akmaliyah, Guru Besar UIN Bandung yang Bersahaja dan Berjiwa Toleran

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Akmaliyah, Guru Besar UIN Bandung yang Bersahaja dan Berjiwa Toleran

02 Januari 2023 | 10:27 WIB Last Updated 2023-01-02T03:28:03Z


WELASASIHMEDIA.ID
— Satu lagi perempuan hebat lahir dari Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


Dia adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab Dr Akmaliyah MAg yang menyandang gelar profesor (guru besar) pada 12 Desember 2022. Sebuah jabatan fungsional tertinggi karena memiliki kapasitas keahlian dan produktivitas ilmiah yang tinggi di bidang Bahasa dan Sastra Arab.


Prof Akmal–panggilan karib Akmaliyah–menyadari bahwa proses perjalanan menuju guru besar itu tidak mudah. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, baik persyaratan utama maupun persyaratan tambahan.


Selain itu, dituntut juga kesabaran, ketelitian, keuletan, kegigihan, dan kedisplinan dalam prosesnya. Ia menjalani perjuangan itu selama lebih kurang dua tahunan, dari mulai pengajuan November 2020 hingga terbit SK guru besar pada 12 Desember 2022.


“Alhamdulillah semua itu dapat saya lalui. Sebenarnya bukan kita yang hebat, melainkan Allah SWT yang senantiasa memberi kemudahan kepada kita,” begitulah celoteh Prof Akmal saat memberikan sambutan pada acara syukuran dirinya di FAH UIN Bandung seperti dikutip dari laman uinsgd.ac.id.


Selain bersyukur kepada Allah Yang Mahakuasa, Prof Akmal juga tidak lupa menyampaikan apresiasi atas kinerja tim yang ikhtiarnya luar biasa dalam mengantarkan dirinya menggapai “cita” dan “asa”.


Cita memiliki makna “perasaan hati, angan-angan, gagasan, ide, dan rindu akan”. Makna yang lebih tepatnya adalah “gagasan/ide” Prof Akmal itu sendiri. Adapun “asa” adalah “harap”, sebuah kehendak Prof Akmal yang di dalamya terkandung pertaruhan antara sukses atau kecewa.


Ini mengandung arti Prof Akmal siap mental “bertawakal” bila yang muncul adalah kekecewaan. Ia menyadari bahwa kehidupan dunia memang tak pernah sempurna. Namun, Prof Akmal tak pernah kehilangan harap bahwa ada masanya akan terwujud kehidupan yang lebih baik.


“Oleh karena itu, di sini ada peran pimpinan, baik di fakultas maupun universitas, dan kolega yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Terima kasih kepada semuanya,” ujar istri dari Drs E Rakajiwi ini.


“Paling sempurna”


Nama “Akmaliyah” sendiri memiliki makna ”paling sempurna”. Semoga Prof Akmal mewarisi sifat-sifat kesempurnaan itu. Paling tidak bisa ditunjukkan melalui indikator bahwa Prof Akmal itu orangnya percaya diri, bisa memimpin, berwibawa, mandiri, dan selalu berpetualang.


Boleh jadi nama yang bagus ini mengandung kekuatan ruhani yang mendorong Prof Akmal lebih percaya diri dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang sempurna dan selalu berusaha agar hidupnya bermanfaat untuk orang banyak.


Bahkan, Akmaliyah mencerminkan sifat peduli kepada sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, dan taat dalam menjalankan kewajiban.


Anak ke-8 dari 10 bersaudara ini dalam kesehariannya sangat akrab dengan sesama: rekan kerja, sesama dosen, karyawan, bahkan dengan pegawai “rendahan” sekalipun.


Ia selalu menunjukkan sikap bersahabat, didukung oleh penampilannya yang bersahaja, bahkan low profile, sehingga tidak membuat jarak dengan atasan maupun bawahan.


Sebagai seorang pejabat, wanita kelahiran Tangerang 01 November 1966 ini juga dikenal sebagai orang yang loyal kepada pimpinan, totalitas dalam bekerja, lurus, juga religius.


Itu terlihat saat menjalankan aktivitas keseharian, baik sebagai dosen, sebagai Kepala Pusat Studi Gender dan Anak LPPM UIN SGD, sebagai aktivis berbagai organisasi masyarakat, maupun sebagai aktivis organisasi profesi.


Berjiwa toleran


Di mata para pejabat lain, baik di tingkat fakultas maupun universitas, Prof Akmal dikenal seorang yang berjiwa toleran. Ia bisa diterima di kalangan mana pun.


Fleksibilitas sikapnya dibentuk oleh pemahamannya tentang cara pandang orang lain. Tidak pernah membeda-bedakan orang lain walaupun dalam masalah pemikiran ataupun sikapnya berbeda pandangan.


Di kampus, Prof Akmal dikenal sebagai sosok yang objektif, menyayangi bawahan, dan senang menciptakan iklim akademik agar lebih baik. Wajar kalau Prof Akmal dua kali dipercaya sebagai Kepala Pusat Studi Gender dan Anak dalam rangka membantu kinerja Rektor UIN SGD Prof Dr H Mahmud MSi.


Dengan dipercayanya menjabat dua kali menandakan bahwa Prof Akmal merupakan sosok yang sangat diperhitungkan. Sikap inilah yang membuat sahabat-sahabatnya, khususnya di kampus, merasa nyaman bergaul dengan Prof Akmal.


Mengakhiri obrolan, anak dari pasangan H Yoesoef Saleh (alm) dan Hj Sufiyah (almh) ini menyampaikan gagasan pentingnya tentang sastra Arab.


Mahasiswa dan dosen, kata Prof Akmal, bukan hanya terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar Bahasa dan Sastra Arab atau peneliti bahasa Arab, melainkan mengabdi di masyarakat terkait bidang Bahasa dan Satra Arab, terutama berkaitan dengan budaya lokal masyarakat Sunda.


“Mahasiswa dan dosen juga perlu dikenalkan dengan dunia luar, khususnya mengenal budaya Arab di negara-negara Timur Tengah. Oleh karena itu, perlu ada program pertukaran pelajar dan dosen atau kegiatan pelatihan, penelitian, dan atau pengabdian di negeri Arab,” ujar ibu dari dua anak, Nisrina Ulfa dan Zalifa Nuri ini.


Dekan FAH UIN Bandung Dr H Setia Gumilar MSi turut bangga atas keberhasilan Prof Akmal dalam meraih gelar profesor/guru besar bidang Bahasa dan Sastra Arab ini.


“Prof Akmal adalah guru besar yang konsisten. Ia adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, guru besarnya pun Bahasa dan Sastra Arab, profesornya juga bidang Bahasa dan Sastra Arab, meskipun studi S2 dan S3-nya bidang Pendidikan Islam,” katanya.


Dekan mengucapkan selamat kepada Prof Akmal dan berharap selalu menginspirasi dosen-dosen FAH lainnya. Harapan Dekan, Prof Akmal dapat mendampingi dosen-dosen lainnya yang sudah Lektor Kepala untuk menjadi profesor.


“Peningkatan kualitas FAH ditentukan oleh dosen. Termasuk para guru besar diberikan fasilitas untuk berkarya meningkatkan dan mempertahankan keunggulan FAH,” pungkas Dekan.***